Denny Sitohang
Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, gigs musik terbesar di
Indonesia, A Mild Live Soundrenaline 2006 di Medan berlangsung aman
sampai selesai. Konser musik yang mengangkat tema Rock United, Come as
One itu berhasil menyedot sekitar 80.000 penonton.
Sejak siang, music mania Medan sudah memadati lapangan di depan hangar
Landasan Udara (Lanud) TNI AU Polonia Medan. Siang itu matahari
bersinar sangat terik. Lokasi yang biasa menjadi tempat parkir pesawat
tempur itu disulap menjadi sebuah venue konser musik raksasa. Tiga
panggung besar, belasan tenda-tenda kecil tempat temu fans, konfrensi
pers, musik klinik, dan counter penjualan merchandise dan sponsor
didirikan di areal yang tak jauh dari Bandara Polonia itu. Sudut-sudut
instalasi militer yang biasanya tertutup itupun bebas untuk dijelajahi.
Mobil pemadam kebakaran terparkir di tengah areal, siap menyemburkan
air saat penonton kepanasan.
Sekitar pukul 11.00, Nidji, pendatang baru di dunia musik Indonesia
naik panggung. Soundsystem berkekuatan 80.000 watt di atas panggung
utama milik A Mild itu lalu menyemburkan musik berirama britpop milik
Nidji. Sebagai pendatang baru, performance mereka cukup dahsyat, power
musik mereka tetap konstan sampai usai jatah waktu.
Berturut-turut, setelah Nidji, bergantian naik panggung band-band papan
atas Indonesia seperti Samsons, Radja, Club Eighties, Ungu, Tipp Ex,
PAS, rif/, BIP, Naff, Shanty plus Titi DJ, God Bless, Slank, Boomerang,
plus tiga band asing Crowned King (Kanada), The Flairs (Kanada), dan
Mike Tramp (Australia). Total jenderal, 40 band menggoyang dan
menggedor gendang telinga penonton Medan. Tak ketingggggalan empat band
lokal Medan, Beautiful Monday, Sinar, Emosi Bangsa, dan Mahameru
mengajak penonton bergoyang.
Kali ini sangat pantas rasanya untuk menhighlight penampilan band asal
Kanada The Flairs. Band yang memiliki tiga personil cewek ini dahsyat!
Mereka benar-benar rock star, sangat eye catching dengan vokalis cewek
cantik bertubuh seksi. Gitaris mereka memiliki permainan maut dan
drummer cewek yang sangat bertenaga. Musik mereka unik, ramuan rock era
80 an, metal dan punk, dan sedikit manis tentunya.
Singel mereka sudah duluan “menghantam” chart radio-radio rock di
Kanada. Mei lalu, album dalam kepingan CD mereka diluncurkan di Kanada
dan Juni lalu di Amerika. Kini, band itu sedang mempersiapkan diri
untuk tur di Amerika, tempat yang terkenal sangat sulit untuk ditembus
para musisi.
Band ini dibentuk pada musim panas tahun 2002 dengan line up Dawn
Mandarino (vokal dan gitar), Jen Foster (drum dan vokal), Gillian Hanna
(lead guitar dan vokal) dan Ryan Hanna (bas). Dawn yang tergila-gila
pada the Ramones adalah mantan anggota cheerleaders saat di SMU. Jangan
heran kalau dia memiliki wajah oke plus postur tubuh seksi. Jen
terinfluence oleh musik ska-punk, Hanna sangat mengagumi band rock 90
an seperti Metallica dan Guns ‘N Roses. Secara menyeluruh mereka
dipengaruhi band cadas seperti Veruca Salt, Nirvana, Garbage dan Stone
Temple Pilots. Jadi, kalau Anda menyukai band-band itu, mungkin Anda
juga akan suka The Flairs.
Siang menjelang sore pada Minggu itu, The Flairs tampil di panggung
Simpati. Dee-dee mencoba berakrab-akrab menyapa penonton dengan
beberapa kata dalam Bahasa Indonesia. “Horas Medan, The Flairs senang
bisa tampil di depan kalian,” katanya terpatah-patah. Janjinya saat
konfrensi pers sehari sebelumnya memang terbukti. Mereka tampil
dahsyat. Sayang, penonton tidak akrab dengan lagu-lagu The Flairs,
Namun, crowd tetap memberikan aplus saat Hanna menyayat gitarnya ala
Slash (eks G’n’R).
Dari line up band lokal (Indonesia) kelompok yang ditunggu-tunggu tentu
saja band gaek God Bless. Sudah bertahun-tahun publik Medan tidak
melihat mereka tampil di panggung. Sayang, saat Achmad Albar cs naik
panggung, hujan deras turun. Namun, penonton tak beranjak. Mereka terus
berjingkrak. Albar yang mulai uzur masih mampu menggoyang penonton.
Serupa dengan rekannya Ian Antono, Donny Fattah, Abadi Soesman, dan
Yaya Muktio. Lagu-lagu seperti Musisi, Menjilat Matahari. Rumah Kita,
Syair Kehidupan, Panggung Sandiwara, dan Semut Hitam mereka sajikan
sempurna.
Band penutup Slank dan Boomerang rasanya tidak perlu dikomentari lagi.
Menjelang malam, Slankers Medan terus berdatangan. Performance Slank
malam itu benar-benar memuaskan mereka.
Dengan kualitas seperti ini rasanya gigs ini pantas untuk disajikan
lagi tahun mendatang. Mungkin dengan sedikit bongkar pasang line up
band yang tampil. Karena sedikit aneh rasanya melihat si mantan VJ MTV
Shanty menyaru sebagai rock star di tengah-tengah line up band cadas.
Beberapa band juga terkesan “terlalu manis” untuk perhelatan sekelas
Soundrenaline yang seharusnya benar-benar memancing andrenalin.
Meski, kita menyadari sebenarnya misi Sampoerna A Mild sudah terilhat:
musik adalah universal dan egaliter. Jangan bicarakan perbedaan bahasa,
suku, dan selera disini. Makanya, Soundrenaline Rock United tak sekedar
musik rock, namun lebih universal. Sampai bertemu tahun depan.
|