Menjilat ludah sendiri, sepertinya memang sudah menjadi tabiat PSSI.
Itu pulalah yang dilakukan otoritas tertinggi sepak bola Indonesia ini
sebelum duel big match Persib Bandung versus PSMS Medan, besok.
Pertanyaan dasarnya, ada apa di belakang lahirnya keputusan tersebut?
Aneh bin ajaib. Kata ini pantas disematkan melihat keputusan PSSI yang
akhirnya membolehkan penonton datang ke Stadion Siliwangi Bandung untuk
mendukung tim kesayangannya berlaga melawan PSMS, Sabtu (7/1) besok.
Bagaimana tak aneh, keputusan itu jelas bertentangan dengan hasil jerih
payah 8 orang anggota Komdis yang telah bersidang selama satu harian
penuh, pekan lalu, yang memutuskan bahwa laga Panpel Persib dihukum tak
boleh menerima penonton saat menjamu PSMS. Ini buntut aksi kerusuhan
bobotoh saat timnya berhadapan dengan Persema Malang.
Berhari-hari, keputusan tersebut diambangkan. Namun, hanya dua hari
menjelang laga, sang Ketua Umum, Nurdin Khalid, tampil sebagai pahlawan
Bandung. Dia membatalkan sendiri keputusan yang dibuat oleh lembaga
yang sejatinya juga dia bentuk sendiri itu. Laga Persib vs PSMS, boleh
disaksikan penonton seperti biasanya. Hukuman tanpa penonton ini malah
dia geser saat Persib menjamu PSSB Bireun. Luar biasa! Keputusan 8
orang mentah oleh ‘kebijaksanaan’ satu orang.
Dari sisi legalitas, Nurdin tak salah membuat keputusan itu. Sebab, dia
memang diberi hak prerogatif untuk membatalkan putusan lembaga apapun
yang ada di bawah naungan PSSI. Hanya saja, Nurdin tampaknya tak
memahami, bahwa keputusannya tersebut sangat tak mendidik bagi sepak
bola Indonesia. Sebab, kalangan suporter yang selama ini kerap
melahirkan kerusuhan, tak akan terstimulasi lagi untuk merubah tabiat
buruknya.
Hukuman pertandingan tanpa penonton pun sebenarnya tak begitu efektif
mendidik suporter kita. Buktinya, kerusuhan suporter tetap menjadi
tontonan sehari-hari. Apalagi, jika hukuman yang sudah tak efektif itu
dibuat semakin tak efektif karena ketidaktegasan dalam penerapannya.
Yang lebih membahayakan dari kebijakan Nurdin ini, tentunya adalah
bisik-bisik yang sudah menyebar di kalangan para pemerhati dan pelaku
sepak bola nasional. Apa itu? Adanya semacam grand strategi dari PSSI
untuk memberikan gelar juara musim ini kepada Persib. Memang, terlalu
pagi mengambil kesimpulan soal itu. Makanya, ketika saya mendengar
selentingan itu dari beberapa pemain (di luar PSMS) dan beberapa
pelatih, terus terang saya kurang begitu mempercayainya. Bahkan, ketika
Persib ‘dipaksa’ menang oleh keputusan sangat kontroversial wasit yang
memberi hadiah penalti ‘antah berantah’ untuk mengalahkan PSS Sleman,
saya juga masih belum begitu percaya dengan desas-desus itu. Pun
demikian, saya pun belum mau terlalu percaya, keputusan PSSI
membolehkan penonton menyaksikan langsung laga Persib vs PSMS ini
adalah bagian dari grand strategi. Hanya saja, bagi kalangan penikmat
sepak bola nasional lainnya, termasuk saya, setidaknya ini bisa menjadi
hipotesa awal bahwa PSSI memang tak serius menggelar Liga Indonesia
untuk mencari yang benar-benar layak menjadi juara. Gelar juara lebih
ditentukan kepada siapa yang paling bisa mendekati PSSI, ketimbang
siapa yang paling bagus timnya. Singkatnya, gelar juara direbut oleh
tim sukses, bukan tim yang sukses.
Benarkah? Entahlah. Namun yang jelas, isu soal tim mana yang bakal
merebut juara sudah ditentukan sejak jauh-jauh hari, sudah merupakan
isu lama tiap musim yang uniknya jarang meleset. Lantas, kalau sudah
begitu untuk apa APBD dicairkan miliaran rupiah kepada masing-masing
tim?
Kembali ke Persib. Jika boleh berargumentasi, kesan tersebut cukup
kental. Sebab, alasan Nurdin menggeser hukuman itu juga tak logis. Demi
keamanan? Bukankah sudah ada petugas yang memang berurusan dengan
keamanan tersebut? Lantas, kalau di kota lain, Tangerang dan Surabaya
yang dikenal punya penonton tak kalah garang, toh tak ada masalah
dengan keamanan ini? Kenapa di Bandung, Nurdin takut?
Atau jangan-jangan, kubu Persib merasa PSSB Bireun lebih gampang
dijinakkan ketimbang PSMS, sehingga mereka tak mempersoalkan jika laga
tanpa penonton diberlakukan saat menjamu PSSB? Atau, jangan-jangan
pula, PSSI lebih memerdulikan uang yang masuk ketimbang menegakkan
peraturan? Entahlah. Yang pasti, tak ada satu negara pun di dunia ini
yang sepak bolanya bisa maju jika dikelola dengan cara barbar dan
seenak perut! (*)
*) Wartawan Harian Sumut Pos
www.hariansumutpos.com
|
October 29th, 2008 at 4:40 am
Thanks for writing this.