Organisasi Kotor
Lilianto Apriadi
ORGANISASI KOTOR
Kamis, 8 November 2007 pukul 14:15:58 WIB
![]() |
PSSI
benar-benar telah menjadi organisasi kotor. Kotor dalam bersikap, kotor
dalam berucap, kotor pula dalam melakukan manajemen organisasi. Sayang,
yang menjadi pembersih bukan dari dalam negeri tapi justru dari
Presiden FIFA, Sepp Blatter. Padahal pembersih dari dalam sudah banyak
disuarakan. Alamak malunya!
Dalam bersikap, tengoklah kelakuan para pengurus PSSI dalam menyikapi
pernyataan-pernyataan FIFA menyangkut statutanya. Mereka sebenarnya
tahu salah, tapi bersikap mempertahankan kesalahan. Sikap mereka
sepertinya PSSI punya mereka sendiri.
Dalam berucap silakan saja lihat komentar para pengurus PSSI dalam
mempertahankan kesalahan-kesalahannya. Salah satunya Masya Allah,
datang dari Sekjen Nugraha Besoes.
”Tidak ada yang perlu dikawatirkan dengan ini (citra). Citra negara ini
pun sudah buruk sejak awal,” ujar Nugraha seperti dikutip Kompas, Jumat
21 September 2007. Harian terbesar nasional itu sendiri mengutip
keterangan Nugraha dari The Jakarta Post, Rabu 19 September.
Ucapan itu tidak pantas keluar dari seorang pembina olahraga. Apalagi
Nugraha dikenal berkecimpung dalam dunia ini sejak masih muda, dari
atlet sampai menjadi pengurus olahraga seperti sekarang ini.
Sejak awal negara ini sudah buruk? Mana mungkin! Para pejuang,
pahlawan, dan para pendiri negeri ini akan menangis kalau sejak awal
citra negeri ini dianggap sudah buruk. Mereka justru bangga dengan
Nusantara ini yang dimerdekakan lewat tumpah darah dan nyawa. Citra
negeri ini dari awal sangat tinggi.
Dan, kalau diperjalanan citra ini menjadi menurun itu adalah wajar.
Citra bisa naik, bisa pula turun. Tapi, kenapa negara, apalagi sejak
awal, dibawa-bawa dalam citra PSSI yang telah jatuh ke dasar jurang?
Sebagai seorang pembina, mestinya Nugraha harus mengangkat citra
organisasi supaya tinggi. Sebagai warga negara, harusnya ia ikut
membawa negeri ini memiliki citra lagi seperti awal berdiri. Bukan ikut
menjatuhkan juga, seperti dia menjatuhkan citra PSSI sekarang ini.
Itulah makna ucapannya yang sangat menyedihkan itu.
Nah, dalam bermanejemen organsiasi dilakukan sangat kotor juga oleh
PSSI. Lihatlah perkembangan langkah PSSI dalam menyikapi kasus Ketua
Umumnya, Nurdin Halid, yang diminta mundur setelah masuk bui lagi.
Awalnya mereka keberatan, karena suara itu muncul dari dalam negeri.
Suara-suara itu dianggap berasal dari barisan sakit hati yang tidak
bisa masuk dalam kepengurusan PSSI.
Tidak lama kemudian FIFA memberikan pernyataan berupa rilis dalam
situsnya. Oleh PSSI FIFA dianggap tidak mengeluarkan pernyataan berupa
surat keputusan resmi. Pergilah para pengurus ke markas AFC, Kuala
Lumpur, meminta langsung penjelasan FIFA itu. Dari AFC, PSSI juga
dianjurkan supaya mengubah statutanya mengikuti statuta FIFA.
Dari dua langkah manajemen ini menjadi kotor dan boros dilakukan oleh
PSSI. Kotor karena para pengurus masih menantang pernyataan FIFA.
Mereka masih berpikiran buruk kepada FIFA. Bukankah rilis itu muncul
dari sidang FIFA? Tidak semua hasil sidang dilanjutkan dengan surat
keputusan.
Kotornya ”jiwa” pengurus PSSI dilanjutkan dengan berharap ada yang
berbeda dari AFC. Ternyata AFC juga sama, berharap statuta PSSI diubah.
Keinginan AFC itu, ya ujung-ujungnya adalah meminta Nurdin mundur.
Itulah organisasi profesional, yang tidak ingin tembak langsung ke
personal. Perbaiki dulu landasannya, baru individunya.
PSSI masih ingin berkelit dengan mencari-cari waktu dan membentuk tim
statuta segala. Di tengah kelitan ini ”pembersih” jiwa kotor muncul
dari Sepp Blatter, Presiden FIFA, yang meminta PSSI untuk mengganti
Nurdin.
Kata Wapres Republik Mimpi, Jarwo Kuat: ”Capek deh!” Ke sana-sini,
berkelit tak karuan, akhirnya kembali ke suara masyarakat sendiri. ” Aya-aya wae.”
Sepatutnya permainan kotor ini dihentikan. Munaslub untuk
menyempurnakan statuta, pemilihan ketua umum, dan pengangkatan exco,
harus dilakukan dengan jiwa yang bersih. Pikiran-pikiran kotor harus
segera dihilangkan.
Kebersihan organisasi dilandasi oleh niat yang jernih pula dalam diri
para pengurus. Semata-mata para pengurus bekerja untuk kemajuan
sepakbola Indonesia. Untuk mencapainya para stakeholder sepakbola
maupun olahraga harus bersatu.
Selain oleh supervisi FIFA dan AFC, masyarakat sepakbola Indonesia juga
perlu mengawasi jalannya Munaslub tersebut. Tujuannya agar tidak
terulang lagi kasus munas lalu yang secara serempak menyetujui Pedoman
Dasar PSSI sekaligus produk-produknya. Kalau PSSI sekarang ini melempar
tangan kepada para peserta munas, lebih elegan kalau PSSI sendiri
mengambil alih semua kesalahan.
Akibat kesalahan segelintir orang itu, rasa malu dipikul bangsa. Betapa
tidak malu, persoalan itu sebenarnya bisa diselesaikan oleh kita
sendiri. Yang diminta FIFA dan AFC sama dengan yang diminta oleh
kebanyakan pemerhati sepakbola dalam negeri, termasuk oleh Wakil
Presiden Jusuf Kalla.
Belum lagi tenaga, waktu, dan biaya dikeluarkan dalam ”mengamankan” si
Nurdin itu. Munaslub dengan menghadirkan orang banyak bakal digelar
lagi. Berapa banyak biaya, waktu, dan tenaga dikeluarkan untuk
penyelenggaraannya? Biaya itu sebenarnya lebih baik untuk kepentingan
tim nasional.
Apa boleh buat, sepakbola sudah amat dicinta. Rasa malu pun harus kita
telan pahit-pahit. Uang berhamburan percuma harus kita terima. Sekarang
yang perlu dilakukan adalah mengubah rasa malu menjadi rasa bangga.
Sehingga pada saat keluar dari Munaslub nanti, kepala kita tegak dengan
harapan besar bahwa di masa depan sepakbola kita akan maju.
Bersih-bersih!
Email: lili@bolanews.com atau ramtodi@yahoo.com
Blog: http://liliantoapriadi.blogspot.com
Lilianto Apriadi
