Singkong Keju
Lilianto Apriadi
SINGKONG KEJU
Rabu, 24 Oktober 2007 pukul 19:7:9 WIB
![]() |
Singkong
dan keju diibaratkan oleh Ari Wibowo dalam sebuah lagu tahun 1980-an
mirip madu dan racun. Saling bertolak belakang. Tapi, sekarang sudah
bisa dicampur. Sebagai makanan, singkong dicampur keju sudah banyak
yang jual dan rasanya nikmat. Bagaimana di dunia olahraga?
Paduan yang tidak serasi itu seperti sesuatu yang tidak masuk akal. Di
dunia olahraga kejadian-kejadian yang tak masuk akal itu sering
terjadi. Istilah bola bundar untuk menyebut segala sesuatu yang bisa
terjadi di lapangan sepakbola. Kesebelasan yang tak diperhitungkan bisa
saja menumbangkan tim yang dijagokan.
Ada lucky blow untuk dunia tinju. Jika saja terkena
pukulan telak yang tidak disengaja tapi di tempat yang vital seperti
rahang, petinju unggulan akan mampu dikalahkan oleh petinju kacangan.
Dalam golf, atlet sangat mengincar hole in one, yang
terkadang oleh pihak penyelenggara disediakan hadiah gede. Untuk
mendapatkannya, pegolf sekelas Tiger Woods sulit mendapatkannya. Tapi,
ada saja pegolf dari antahberantah pernah memperoleh mobil BMW karena hole in one.
Sekarang, dalam sepakbola lokal, khususnya Liga Indonesia, sedang ramai
omongan menyangkut soal yang tak mungkin kalau klub-klub mandiri tanpa
bantuan dana dari pemerintah daerah. Mereka selama ini dimanjakan,
sehingga setelah ada peraturan yang melarang dana APBD terus menerus
mengucur ke klub sepakbola, menjadi bingung, kaget, sehingga muncul
pemikiran pendek; akh nggak masuk akal kalau klub berdiri tanpa APBD!
Padahal kalau diurai persoalannya, jalan keluar bisa dijumpai. Ya,
seperti koki yang mampu memadukan dua ”benda” yang tadinya sulit
disatukan, yaitu singkong dan keju itu. Singkong dari kampung,
sedangkan keju adonan dari negeri yang sudah maju. Keju biasanya
dimakan oleh sinyo dan noni-noni Belanda sebagai campuran roti.
Sementara itu singkong, jangankan dimakan oleh sinyo dan noni, dilirik
pun tidak. Dia menjadi makanan orang kampung. Eh, sekarang orang kota
dan kampung menikmatinya!
Untuk menuju ke hal yang tidak masuk akal itu selain nasib baik,
diperlukan juga kreativitas, inovasi, dan tentu kerja keras pantang
henti.
Kreativitas dan inovasi berjalan seiring. Kreativitas belum tentu
inovatif. Tapi kalau melahirkan inovasi pastilah berdasar pada
kreativitas. Sementara itu, kerja keras merupakan pengorbanan tenaga,
waktu, dan pikiran dalam mencari kreativitas dan inovasi. Jika kita
bekerja keras, memang tidak selalu muncul kreativitas maupun inovasi.
Tapi, kerja keras merupakan modal utama menghasilkan kreativitas dan
inovasi.
Meminjam istilah yang sering dikumandangkan oleh Jakob Oetama, Preskom
Kelompok Kompas Gramedia, orang yang gelisah sering melahirkan
kreativitas dan inovasi. Orang yang gelisah berarti pikirannya sedang
bekerja, tak pernah berhenti sekalipun sedang tidur. Selalu
mengumandangkan pertanyaan-pertanyaan dalam mengupas permasalahan. Tak
pernah buntu mencari jalan keluar. Istilah sekarang yang sedang dicari
dalam setiap insan, apa itu karyawan swasta, pegawai negeri, maupun
wiraswasta, adalah sikap enterpreuner. Mereka mampu mencari sekaligus
menciptakan peluang.
Tipe orang seperti ini sangat diperlukan di dunia olahraga, yang
mendapatkan dana bukan hanya dari pemerintah tapi juga dengan
kreatvitas dan inovasi masyarakat swasta. Maka, kalau menghadapi kasus
penghentian APBD dalam Liga Indonesia misalnya, orang-orang seperti ini
tidak akan mati kutu. Justru mereka akan senang, karena mendapat
tantangan dalam menjalankan roda organisasi.
Meski berlomba-lomba mendapatkan kreativitas dan inovasi, unsur fairplay
tetap saja dikedepankan. Kita baru saja diberikan contoh dalam lomba
balap mobil F1. Dunia otomotif yang mengandalkan teknologi tinggi
menjadi ajang adu kreativitas dan inovasi dalam mendisain kendaraan,
selain tentu keterampilan sang pembalap di sirkuit. Untuk urusan ini
Ferrari dengan konseptor Jean Todd adalah jagonya. Sampai-sampai salah
satu konsepnya dicuri oleh musuhnya, McLaren.
Untunglah ada aturan main sehingga McLaren harus dihukum. Nasib baik
pun diterima tim Ferrari. Walau pembalap-pembalapnya, Kimi Raikkonen
dan Felipe Massa sempat tertinggal dalam perhitungan angka dari dua
pembalap McLaren, Fernando Alonso-Lewis Hamilton, toh di akhir balapan,
Kimi dan Massa menguasai sehingga gelar juara dunia untuk pembalap
jatuh juga ke tangan Kimi.
Gelar-gelar terbaik itu adalah buah ketekunan, kerja keras,
kreativitas, dan tentu inovasi. Tanpa adanya modal ini sulit sekali
olahraga kita berkembang.
Kita tidak perlu meniru umpamanya Arab Saudi, dengan modal kekayaan
yang melimpah berhasil mengangkat tim sepakbola dengan banyak merekrut
pelatih maupun pemain asing. Singapura juga mengalami hal sama dengan
banyak mengambil atlet-atlet dari luar negaranya untuk meningkatkan
prestasi olahraganya di mata internasional. Konsep itu lebih banyak
mengambil jalan pintas dari pada melakukan pembinaan terencana.
Yang perlu kita contoh adalah Cina. Mereka pekerja keras dan tekun,
pencari kreativitas dan inovatif yang tak pernah berhenti. Prestasi
olahraga mereka diperkirakan bakal menjadi nomor satu dunia dalam
rentang waktu yang lama. Mereka terus menghasilkan jutaan atlet berusia
dini lewat sekolah-sekolah dasar maupun klub-klub olahraga yang
bertebaran di seluruh penjuru negeri.
Siapa sangka mereka punya Yao Ming, atlet basket yang sebelumnya selalu
dikuasai oleh Amerika Serikat? Siapa sangka pula kesebelasan mereka
sudah mampu lolos ke putaran final Piala Dunia? Dan banyak lagi hasil
yang mereka peroleh secara ajaib seperti berdirinya Tembok Cina yang
mereka punya sejak lama.
Hanya perlu diingat sekali lagi, hasil kerja keras, kreativitas, dan
inovatif itu tidak diperoleh secara instan. Dan itu pastilah dirasakan
oleh seluruh pelaku kerja keras, kreativitas, dan inovatif. Termasuk di
dalamnya adalah si penemu makanan singkong keju itu. Ma’nyus!
Email: lili@bolanews.com atau ramtodi@yahoo.com
Blog:
http://liliantoapriadi.blogspot.com
Lilianto Apriadi
